Jumat, 11 Desember 2015

Liburan Panjang dan Kualitas Konstruksi

Liburan panjang sebentar lagi. Anak sekolahan sebentar lagi akan liburan panjang. Para pegawai negeri dan swasta juga akan liburan panjang. Para politisi dipastikan juga akan ikut berlibur panjang. Hampir semua profesi dan lapisan masyarakat akan ikut berlibur panjang.

Liburan dibutuhkan sebagai upaya menyeimbangkan kondisi jasmani dan rohani yang selama ini bergerak baik secara pisik maupun pikiran. Kekurangan liburan bisa berdampak buruk pada pisik berupa gangguan kesehatan. Di samping itu juga bisa berdampak buruk pada pikiran berupa gangguan mental maupun urat syaraf.

Liburan kecil berada pada hari sabtu dan minggu. Sedangkan liburan panjang biasanya apabila liburannya melebihi 2 hari.

Sebagian kecil liburan panjang akan dijalani oleh kaum berada yang seringkali melakukan perjalanan transportasi udara. Bagi kaum menengah ke bawah akan berlibur dengan transportasi darat memakai kenderaan pribadi atau transportasi umum.

Saya ingin menyoroti liburan panjang yang akan dijalani oleh kaum menengah ke bawah.

Transportasi darat yang akan menjadi sarana menuju tempat rekreasi akan melalui jalanan umum. Waktu tempuh dari tempat tinggal menuju lokasi rekreasi akan ditentukan oleh jarak tempuh dan kecepatan tempuh. Bisa saja jarak tempuh yang begitu jauh dilalui dengan waktu tempuh yang singkat. Tapi bisa juga jarak tempuh yang begitu dekat ternyata harus ditempuh dengan waktu tempuh yang lama. Yang paling parah adalah sudah jarak tempuh yang begitu jauh ditempuh dengan waktu tempuh yang lama juga. Di sini parameter kualitas jalan menjadi faktor kunci lama atau tidaknya waktu tempuh.


Sudah bukan rahasia umum bahwa kualitas produk jalan di orde reformasi ini mengalami degradasi kualitas dibandingkan dengan kualitas produk jalan di masa orde baru. Faktor SDM, material dan proses pengerjaan menjadi kambing hitam padahal penyebab utama adalah kondisi sosial yang mengharuskan tingginya tingkat kebocoran anggaran. Belum lagi dihadapkan pada anggaran negara yang menjadi sapi perah politik dan pihak kepentingan lainnya.

Namun bagaimanapun juga negara ini didirikan salah satunya adalah untuk menyenangkan rakyatnya. Dalam waktu dekat potensi untuk menyenangkan rakyat adalah pada liburan panjang ini. Negara jangan hadir hanya ketika memungut pajak. Negara harus hadir ketika rakyatnya ingin bersenang-senang ketika liburan panjang. Rakyat takkan mau peduli dan memang tidak perlu peduli apakah itu status jalan nasional, jalan propinsi, jalan kabupaten/kota atau jalan desa. Rakyat ingin melaju di jalanan dalam keadaan senang dan selamat.

Tapi untuk memperbaiki jalan rusak diperlukan dana yang tidak sedikit. Oke. Itu alasan yang walau tidak perlu diungkapkan namun masih bisa diterima. Tapi bukankah paling tidak jalan rusak dan berlobang masih bisa ditambal ? Ya. Atas nama bangsa Indonesia. Masih ada waktu paling tidak 11 hari lagi untuk melakukan penambalan jalan terutama jalan menuju lokasi rekreasi. Penambalan jalan tidak membutuhkan dana yang begitu banyak. Tidak membutuhkan material yang aneh aneh. Tidak membutuhkan metode pengerjaan yang sulit. Tidak perlu tender. Cukup tuangkan material dan langsung gilas. Toh ruas jalan menuju lokasi rekreasi secara nasional paling banter hanya ribuan kilometer. Biaya penambalannya tidak akan melebihi satu ruas jalan tol. Juga tidak akan melebihi jumlah subsidi BBM selama satu bulan. Juga tidak akan melebihi anggaran pilkada serentak.

Salam reformasi.

Rahmad Daulay

12 desember 2015.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar