Selasa, 24 September 2013

E-KTP apa Kabar


Pada beberapa pemberitaan disebutkan bahwa KTP manual akan dinyatakan tidak berlaku mulai 1 januari 2014. Saya tidak tahu apakah para pemangku kebijakan di pusat sudah memahami dan menguasai perkembangan dan hambatan pada penerapan E-KTP tersebut..

Pertanyaan pertama adalah apakah sudah semua penduduk yang sudah memenuhi persyaratan telah melakukan perekaman data e-KTP ? Banyak hal yang harus dipenuhi secara teknis agar proses perekaman e-KTP bisa dilaksanakan dengan baik. Mulai dari listrik yang mendukung, apakah semua kecamatan dan desa sudah dialiri listrik ? Kalaupun dialiri listrik apakah listriknya sudah stabil dan bisa menghidupkan peralatan perekaman e-KTP ? Kenyataan menunjukkan bahwa belum semua kecamatan dan desa bisa dialiri listrik dan kalaupun dialiri listrik ternyata masih banyak listrik yang byar pet dan kurang daya sehingga tidak bisa menghidupkan peralatan e-KTP dengan baik. Nah, dari sini sudah bisa disimpulkan bahwa masih banyak penduduk yang sudah memenuhi syarat yang seharusnya sudah bisa ikut perekaman data e-KTP ternyata karena kendala teknis tidak bisa terekam datanya. Hal ini harus diatasi dengan penyelesaian teknis juga.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah sudah semua penduduk yang sudah melakukan perekaman e-KTP telah mendapatkan e-KTP ? Kenyataan membuktikan bahwa belum semua penduduk yang telah melakukan perekaman e-KTP juga sudah mendapatkan e-KTP. Dan kalaupun sudah mendapatkan e-KTP ternyata data di dalamnya juga masih ada yang perlu diperbaiki. Harus dilakukan pendataan yang akurat berapa lagi jumlah penduduk yang belum memperoleh e-KTPnya dan harus diatur bagaimana mekanisme perbaikan data e-KTP tersebut.

Senin, 23 September 2013

Idul Kurban dan Swasembada Sapi


Negeri gemah ripah loh jinawi, tongkat batu jadi tanaman, negeri dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia peternakan terdidik terbanyak di dunia, tapi sapi saja impor. Bagaimanapun juga ini semua sudah terjadi. Modernisasi menyebabkan dunia peternakan menjadi terjerembab di emperan peradaban. Kesan peternakan adalah kampungan bukan modern. Yang modern itu pabrik dan keluarganya. Maka jadilah pak tani peternakan tidak menginginkan anaknya menjadi petani peternakan lagi. Ternaknya dijual demi pendidikan dan masa depan anaknya. Keadaan ini berlangsung puluhan tahun. Maka terjadilah keadaan seperti sekarang ini, produksi daging sapi lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga harus impor. Dan impornya tidak tanggung-tanggung, jutaan ton daging sapi.

Maka muncullah beberapa solusi oleh petinggi negeri, salah satu solusi jempolan adalah membuka lahan peternakan sapi di Australia. Salah satu dasar pemikirannya adalah jarak Australia – pulau Jawa lebih ekonomis dibanding pengembangan peternakan di beberapa sentra produksi sapi di Indonesia Timur.

Apapun solusi yang ditawarkan dan diterapkan namun bila mengesampingkan potensi tradisonal yang dimiliki bangsa ini maka sama saja dengan menelantarkan rakyat sendiri. Pengembangan lahan peternakan di Australia tanpa mengembangan potensi peternakan dalam negeri akan membuat ekonomi rakyat peternak sapi menjadi tidak bergerak. Maka selain solusi prestisius pengembangan peternakan sapi di Australia maka pengembangan potensi peternakan sapi dalam negeri harus menjadi prioritas juga karena menyangkut perekonomian rakyat dalam jumlah yang besar.

Modernisasi Obat Tradisional


Konon kabarnya, seorang teman, katakanlah namanya Fulan, mengeluhkan sakit pinggangnya yang tak kunjung sembuh. Beberapa tempat medical check up telah dikunjungi namun penyakitnya tak kunjung sembuh. Suatu saat seorang temannya menyarankan untuk mencoba pengobatan tradisional. Antara yakin dan tak yakin Fulan mengunjungi tempat perobatan tradisional tersebut. Setelah diberi nama bahan obat tradisional maka Fulanpun mencari beberapa tumbuhan untuk diramu menjadi obat pinggangnya. Setelah lengkap maka Fulanpun membawa kumpulan ramuan itu ke tempat pengobatan tradisional tersebut. Setelah diramu dan didoa maka Fulanpun memasak ramun tersebut dan meminumnya sesuai anjuran. Dan ternyata sakit pinggangnya sembuh sampai sekarang.

Kisah fiksi di atas banyak terjadi di kalangan masyarakat dengan berbagai variasi penyakit dan obatnya. Pengobatan tradisional hidup dan berkembang di masyarakat secara alami turun temurun. Dan pada umumnya pengobatan tradisonal ini dipergunakan oleh masyarakat pedesaan. Hanya kadang-kadang masyarakat perkotaan mencari pengobatan tradisional itupun karena pengobatan modern tidak bisa menyelesaikan kesembuhan penyakitnya. Banyak aroma supranatural yang menyertai pengobatan tradisonal ini, namun tidak sedikit di antaranya ternyata bermuatan ilmiah dan bisa dibuktikan secara ilmiah.

Nusantara ini kaya akan budaya daerah. Salah satu kekayaan budaya tersebut adalah kekayaan pengobatan tradisinal. Hampir di semua daerah mmeiliki tradisi khas pengobatan tradisionalnya. Kekayaan flora dan fauna nusantara menjadi cikal bakal kekayaan pengobatan tradisional nusantara. 

Pendidikan Nonformal Berlalu Lintas


Kondisi keadaan perlalulintasan sudah sangat mengkhawatirkan. Kecelakaan demi kecelakaan terjadi berulang kali. Dan tragisnya sebagian pelaku kecelakaan adalah anak di bawah umur. Dari segi izin mengemudi maka bisa dipastikan bahwa anak di bawah umur belum memiliki surat izin mengemudi. Sedangkan orang dewasa yang memiliki SIM saja belum tentu bisa berkendara dengan baik dan benar, konon lagi para anak di bawah umur.

Banyak analisis yang bisa dijadikan dasar dalam mengatasi kecelakaan berlalu lintas yang dilakukan oleh anak di bawah umur. Salah satunya adalah dengan premberlakuan jam malam dan pemberlakuan jam belajar. Boleh – boleh saja ini diterapkan namun kembali kita akan dihadapkan pada keterbatasan sumber daya dalam melakukan pengawasan jam malam dan jam belajar tersebut. Banyaknya jumlah pelajar, sebaran sekolah dan tempat tinggal dan banyaknya aktifitas keseharian menjadikan sumber daya pengawasan menjadi tidak seimbang dengan yang diawasi. Demikian pula pemberlakuan larangan berkendara kepada anak di bawah umur. Kendala sumber daya pengawasan menjadi masalah utama.

Bagaimanapun juga berkendara adalah sudah menjadi kebutuhan hidup baik pada orang dewasa maupun bagi yang masih di bawah umur. Transportasi publik belum bisa menjawab mobilitas pemenuhan kebutuhan hidup. Berkendara adalah solusi kehidupan. Pembatasan penggunaan kenderaan bagi yang di bawah umur tidak efektif secara praktek. Harus dipikirkan bagaimana agar tingkat kecelakaan berlalu lintas bagi anak di bawah umur bisa diminimalisir.

Tuan Pilek


Salah satu gejala modernitas adalah otomatisasi. Otomatisasi ini membuat gerakan manusia menjadi berkurang drastis. Semua bisa dikendalikan secara otomatik.

Demikianlah konon kabarnya pak Fulan, salah satu manager pada perusahaan swasta menjalani hari-harinya pada dunia perkotaan modern yang penuh dengan otomatik. Bangun pagi, mandi, pake shower, tidak pake gayung. Pergi kerja, pake mobil pribadi, hanya sedikit berjalan kaki dari ruang makan menuju garasi mobil. Sampai di kantor hanya sedikit pergerakan jalan kaki dari ruang parkir menuju pintu lift, selanjutnya lift membawanya menuju lantai tempat bejerja. Seharian di dalam ruangan kerja berAC. Mungkin karena kurang pergerakan maka pak Fulan sering terkena flu, apalagi kerjanya diruangan berAC. Maka sering sekretiaris pribadinya disuruh menyediakan obat flu di kantornya dan sudah menjadi konsumsi setiap hari.

Pada suatu hari, terjadi kekacauan sistem kelistrikan yang menyebabkan gangguan listrik di kantornya. Pak Fulan terpaksa harus tidak menggunakan lift, naik tangga menuju lantai sekian tempatnya bekerja. Keringat bercucuran, dan dengan dengan penuh perjuangan pak Fulan sampai juga di lantai sekian tempatnya bekerja. Sorenya listrik belum normal, lift belum bisa dipakai. Pulng kerja pak Fulan memakai tangga turun. Demikian terjadi sampai 3 hari baru listrik normal kembali dan kehidupan otomatik kembali hadir. Selama 3 hari tersebut pak fulan naik dan turun bekerja dengan bersimbah keringat, maklum jarang bergerak. Namun 3 hari itu pula pak Fulan tidak mengkonsumsi obat pileknya. Dan itu menjadi bahan pikiran pada pak Fulan. Pak Fulan memutar otaknya untuk mengupayakan agar penyakit pileknya bisa hilang tanpa harus bersimbah keringat setiap hari. Maka pak Fulanpun mencoba mempergunakan tangga naik sampai pada batas lantai tertentu sampai mulai berkeringat, dan kemudian disambungnya pakai lift. Demikian juga waktu pulang kerja. Setiap hari dipraktekkannya seperti itu sehingga pak Fulan bisa menghilangkan sakit flunya yang pada waktu dulu menjadi langganan setiap harinya. Tuan pilek itu tidak pernah pilek lagi.

Senin, 02 September 2013

Jokowi Nyapres or Not ?


Jokowi memang fenomenal, setidaknya sampai saat ini. Dan diprediksi masih akan terus bersinar. Banyak partai yang berminat meminangnya, baik sebagai capres atau cawapres, namun sampai saat ini Jokowi belum menanggapinya.

Di tengah gundah gulana politik tentang mahalnya biaya politik pilkada, justru di jantung negara ini muncul pemimpin kharismatik yang telah menjungkirbalikkan semua analisa dan logika politik pilkada. Di tengah frustasi di segala lini tentang masa depan otonomi daerah di bidang politik, justru di pusat pemerintahan muncul pemimpin yang menjadi antitesis terhadap kenyataan politik yang selama ini menjadi arus utama politik kontemporer.

Jakarta sudah terlalu ruwet, bagai sebuah gelindingan bola yang tak tentu lagi bentuknya, sebuah benang kusut yang takkan terurai lagi. Memperbaikinya justru semakin mempersulit keadaan. Sebuah kota yang sudah terlalu banyak menanggung beban. Bagaikan gula yang tak mampu lagi mengenyangkan para semut namun para semut itu justru semakin mengerubungi. Hujan tak ada tapi rakyat kebanjiran. Macet di mana-mana, tua-tua di jalan. Di mana penghuninya siang hari ada di jakarta tapi malam hari di luar jakarta. Sorga sekaligus neraka dunia. Jalan penuh sesak oleh kendaraan namun pertambahan kenderaan tak kunjung berhenti. Jokowi hadir di tengah itu semua. Secara perlahan tapi pasti selangkah demi selangkah semua masalah dipetakan dan diurai sedemikian rupa.