Senin, 02 September 2013

Jokowi Nyapres or Not ?


Jokowi memang fenomenal, setidaknya sampai saat ini. Dan diprediksi masih akan terus bersinar. Banyak partai yang berminat meminangnya, baik sebagai capres atau cawapres, namun sampai saat ini Jokowi belum menanggapinya.

Di tengah gundah gulana politik tentang mahalnya biaya politik pilkada, justru di jantung negara ini muncul pemimpin kharismatik yang telah menjungkirbalikkan semua analisa dan logika politik pilkada. Di tengah frustasi di segala lini tentang masa depan otonomi daerah di bidang politik, justru di pusat pemerintahan muncul pemimpin yang menjadi antitesis terhadap kenyataan politik yang selama ini menjadi arus utama politik kontemporer.

Jakarta sudah terlalu ruwet, bagai sebuah gelindingan bola yang tak tentu lagi bentuknya, sebuah benang kusut yang takkan terurai lagi. Memperbaikinya justru semakin mempersulit keadaan. Sebuah kota yang sudah terlalu banyak menanggung beban. Bagaikan gula yang tak mampu lagi mengenyangkan para semut namun para semut itu justru semakin mengerubungi. Hujan tak ada tapi rakyat kebanjiran. Macet di mana-mana, tua-tua di jalan. Di mana penghuninya siang hari ada di jakarta tapi malam hari di luar jakarta. Sorga sekaligus neraka dunia. Jalan penuh sesak oleh kendaraan namun pertambahan kenderaan tak kunjung berhenti. Jokowi hadir di tengah itu semua. Secara perlahan tapi pasti selangkah demi selangkah semua masalah dipetakan dan diurai sedemikian rupa.


Belum selesai semua itu, kini harapan atau beban baru justru diletakkan di bahu Jokowi. Beban itu bernama nyapres. Survei demi survei meletakkan Jokowi di urutan pertama semua capres. Magnet itu semakin kuat. Godaan untuk nyapres semakin kuat. Namun iman politik jokowi cukup ampuh untuk menolak semua godaan tersebut.

Tidak mudah untuk menolak semua ajakan politik tapi juga ternyata tidak cukup sulit untuk menepisnya. Sampai saat ini Jokowi masih tegar dan menyerahkan sepenuhnya keputusan politik kepada partainya. Benarkah Jokowi tidak berminat untuk nyapres ?

Saya melihat bahwa teka-teki ini harus segera diakhiri. Bukan nyapres atau tidaknya yang diakhiri tapi dikotomi membenahi Indonesia atau jakarta harus diakhiri. Artinya bahwa memang benar bahwa Jakarta bukan mewakili Indonesia namun jakarta adalah wajah dan jantung Indonesia. Kesemrawutan dan kompleksitas jakarta akan mempengaruhi kondisi keIndonesiaan. Membenahi kesemrawutan dan kompleksitas jakarta menurut saya akan mempengaruhi kondisi keIndonesiaan. Figur Jokowi harus ditempatkan pada tempatnya dan menempatkannya sebagai manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Memaksakan semua harapan kita ke bahu Jokowi sama saja dengan kita menjerumuskannya. Dan itu jangan terjadi. Jangan paksakan beliau masak sebelum waktunya. Justru pemaksaan Jokowi untuk nyapres akan menjatuhkannya ke rimba birokrasi politik yang berdasarkan pengalaman masa lalu telah memakan banyak korban orang-orang baik di negeri ini.

Saya memandang bahwa akan lebih realistis bila kita memberi waktu dulu pada Jokowi untuk membenahi Jakarta namun Jokowi membutuhkan ruang gerak yang lebih luas dari hanya sekedar Jakarta. Saya melihat bahwa ruang gerak yang lebih luas itu adalah Jabodetabek. Ya, ruang gerak itu bernama Jabodetabek, lebih tepatnya Gubernur Jendral Kota Megapolitan Jabodetabek. Eksperimen tata negara dalam bentuk ini harus dipikirkan dan dianalisa urgensitasnya. Pembenahan Jakarta oleh Jokowi akan sia-sia bila tidak ada ruang gerak keluar Jakarta. Koordinasi kepala daerah seJabodetabek juga akan penuh dengan kepentingan. Perlu komando satu tangan dan komando itu bernama Gubernur Jenderal Kota Megapolitan Jabodetabek. Gubernur Jendral ini setingkat menteri muda jaman orde baru dulu dan masuk dalam jajaran kabinet. Bila Jokowi sukses sebagai gubernur jenderal maka magnetnya akan semakin kuat untuk nyapres dan situasi kondisi akan semakin matang.

Bila eksperimen ini berhasil maka eksperimen selanjutnya bisa bergeser ke eksperimen Gubernur Jenderal Kota megapolitan Surabaya Raya (Surabaya-Gresik-Sidoarjo) dan Medan Raya (Medan-Deli Serdang-Langkat-Binjai).

Salam reformasi.

Rahmad Daulay

3 september 2013.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar