Senin, 23 September 2013

Idul Kurban dan Swasembada Sapi


Negeri gemah ripah loh jinawi, tongkat batu jadi tanaman, negeri dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia peternakan terdidik terbanyak di dunia, tapi sapi saja impor. Bagaimanapun juga ini semua sudah terjadi. Modernisasi menyebabkan dunia peternakan menjadi terjerembab di emperan peradaban. Kesan peternakan adalah kampungan bukan modern. Yang modern itu pabrik dan keluarganya. Maka jadilah pak tani peternakan tidak menginginkan anaknya menjadi petani peternakan lagi. Ternaknya dijual demi pendidikan dan masa depan anaknya. Keadaan ini berlangsung puluhan tahun. Maka terjadilah keadaan seperti sekarang ini, produksi daging sapi lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga harus impor. Dan impornya tidak tanggung-tanggung, jutaan ton daging sapi.

Maka muncullah beberapa solusi oleh petinggi negeri, salah satu solusi jempolan adalah membuka lahan peternakan sapi di Australia. Salah satu dasar pemikirannya adalah jarak Australia – pulau Jawa lebih ekonomis dibanding pengembangan peternakan di beberapa sentra produksi sapi di Indonesia Timur.

Apapun solusi yang ditawarkan dan diterapkan namun bila mengesampingkan potensi tradisonal yang dimiliki bangsa ini maka sama saja dengan menelantarkan rakyat sendiri. Pengembangan lahan peternakan di Australia tanpa mengembangan potensi peternakan dalam negeri akan membuat ekonomi rakyat peternak sapi menjadi tidak bergerak. Maka selain solusi prestisius pengembangan peternakan sapi di Australia maka pengembangan potensi peternakan sapi dalam negeri harus menjadi prioritas juga karena menyangkut perekonomian rakyat dalam jumlah yang besar.


Dalam dinamika peternakan sapi rakyat, setiap tahun kita dihadapkan pada momentum Idul Adha atau yang biasa kita sebut dengan Idul Kurban. Dalam prakteknya dilakukan pemotongan hewan ternak berupa kambing, domba, sapi dan kerbau tergantung kesediaan hewan ternaknya. Sebagian di antara hewan ternak itu adalah berjenis betina dan masih produktif. Pemotongan hewan yang masih produktif ini tentu akan merugikan produktifitas produksi daging dalam negeri. Hal ini harus diantisipasi. Tanpa bermaksud untuk mengusik kekhusukan ibadah Idul Kurban maka alangkah baiknya bila dilakukan pengaturan pelarangan penyembelihan hewan ternak yang masih produktif tersebut, atau dengan jalan pemerintah membeli hewan ternak yang masih produktif agar tidak disembelih. Dan untuk menjamin pasokan dalam penyembelihan kurban maka bila perlu pemerintah memasok hewan ternak jantan untuk diperjualbelikan atau dipertukarkan dengan hewan ternak betina yang masih produktif. Dengan demikian maka kelangsungan produksi peternakan dalam negeri bisa dipelihara kesinambungannya.

Salam reformasi.

Rahmad Daulay

24 september 2013.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar