PENDAHULUAN
KONDISI GIZI DI PERDESAAN DAN PERKOTAAN
Di perdesaan tantangan utama mencakup minimnya infrastruktur, keterbatasan akses pada pangan berkualitas dan rendahnya literasi gizi. Meski banyak bahan pangan dihasilkan di desa namun pola konsumsi sering tidak memenuhi standar gizi.
Di perkotaan masalah utama adalah pola makan yang tinggi kalori dan rendah nutrisi akibat gaya hidup serba cepat dan instan. Akses pangan lebih mudah tetapi kesenjangan ekonomi menghambat sebagian masyarakat mendapatkan makanan bergizi.
KEBIJAKAN DAN PROGRAM SEJENIS
Program serupa sudah berjalan di berbagai negara misalnya National School Lunch Program di Amerika Serikat dan Midday Meal Scheme di India yang menunjukkan dampak signifikan terhadap kesehatan anak. Di Indonesia program serupa pernah dilakukan dalam bentuk pemberian makanan tambahan (PMT), tetapi masalah distribusi, kualitas dan keberlanjutan sering menjadi kendala.
TANTANGAN IMPLEMENTASI DI PERDESAAN
1. Keterbatasan infrastruktur distribusi seperti jalan, kenderaan, fasilitas
penyimpanan dan transportasi yang minim menyulitkan distribusi makanan bergizi.
2. Ketersediaan tenaga dan edukasi gizi: rendahnya jumlah tenaga kesehatan dan
penyuluh gizi membuat literasi gizi kurang berkembang.
3. Potensi ketahanan pangan lokal: sebagian besar desa menghasilkan bahan pangan sendiri namun pemanfaatannya untuk Program Makan Bergizi Gratis masih belum optimal.
TANTANGAN IMPLEMENTASI DI PERKOTAAN
1. Perubahan pola konsumsi: konsumsi makanan cepat saji yang
sangat tinggi sehingga Program Makan Bergizi Gratis perlu adaptasi agar
diterima masyarakat.
2. Mobilitas yang tinggi: penduduk perkotaan yang dinamis
memerlukan distribusi makanan yang efisien, cepat dan higienis.
3. Kesenjangan ekonomi: meskipun bahan pangan tersedia namun akses pangan untuk keluarga miskin masih terbatas dikarenakan faktor ekonomi.
STRATEGI REFORMULASI PROGRAM MBG
1. Pendekatan
Berbasis Komunitas:
A. Di Perdesaan: kolaborasi dan pengaturan manajemen suplai barang dengan usaha
tani dan ladang pribadi, kelompok tani, pedagang pribadi dan pasar desa untuk
pengadaan bahan pangan lokal.
B.
Di Perkotaan: kerja sama dengan UMKM kuliner, kantin sekolah dan koperasi
sekolah.
2. Edukasi Gizi: integrasi literasi gizi ke dalam kurikulum sekolah dan
kampanye media untuk mengubah perilaku konsumsi.
3. Pemanfaatan Teknologi:
A.
Perdesaan: aplikasi sederhana untuk pendataan gizi dan distribusi
berbasis desa.
B.
Perkotaan: sistem digital terintegrasi untuk pengawasan kualitas dan
pengaturan distribusi.
4. Pendanaan Kolaboratif: menggabungkan dana pemerintah, CSR swasta dan sumbangan masyarakat
untuk keberlanjutan program.
5. Monitoring dan Evaluasi: sistem evaluasi berbasis data untuk mengukur dampak, efektivitas distribusi dan tingkat penerimaan masyarakat.
DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI
Implementasi Program Makan Bergizi Gratis yang tepat dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, mengurangi angka stunting dan memperkuat ketahanan pangan. Di sisi ekonomi program ini dapat mendorong pemberdayaan petani/pedagang lokal di desa, UMKM kuliner, kantin sekolah dan koperasi sekolah.
KESIMPULAN
Reformulasi Program Makan Bergizi Gratis sangat penting untuk menjawab tantangan implementasi di perdesaan dan perkotaan. Pendekatan adaptif yang mempertimbangkan kondisi geografis, sosial dan ekonomi diperlukan agar program ini efektif dan berkelanjutan. Edukasi gizi, pemberdayaan komunitas, digitalisasi distribusi dan pendanaan kolaboratif menjadi pilar utama reformulasi.
SARAN
1. Pemerintah perlu mengembangkan model
Program Makan Bergizi Gratis yang spesifik untuk perdesaan dan perkotaan agar
lebih tepat sasaran.
2. Literasi gizi harus ditingkatkan
melalui pendidikan formal dan kampanye publik.
3. Pemberdayaan potensi lokal baik
petani/pedagang di desa, UMKM kuliner, kantin sekolah dan koperasi sekolah
dapat mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan program.
4. Sistem monitoring digital harus
diterapkan untuk memastikan kualitas makanan dan efisiensi distribusi.
5. Kolaborasi antara pemerintah, swasta
dan masyarakat diperlukan untuk pendanaan yang berkesinambungan.
Salam reformasi.
Kaki Bukit Barisan.
Rahmad Daulay, ST
27 Juli 2025.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar