Jumat, 20 November 2015

Antara Aku, Kau dan Batu Akikmu

Ada apa dengan batu akik ?

Bisnis batu akik kini menjamur bak cendawan di musim hujan. Sebelumnya yang paling terakhir menjamur adalah bisnis cuci sepeda motor dan jual beli ponsel dan pulsa.

Sebelumnya batu akik sudah lama diperjualbelikan. Namun tidak sepopuler sekarang. Demikian juga bisnis cuci sepeda motor. Dulu harus antri berjam-jam hanya untuk mencuci sepeda motor. Sekarang cukup berkendara beberapa menit untuk mencari tempat cuci sepeda motor yang kosong. Demikian juga ponsel dan pulsa pada awal mulanya hanya ada di beberapa tempat. Sekarang tidak sampai lima puluh meter sudah ditemukan beberapa tempat jual beli ponsel dan pulsa.

Apa penyebab sesuatu itu menjadi booming ? Cukup sederhana, hanya sekedar bisa tahu tata cara menjalankan bisnisnya dan faham sistem jaringannya. Pada sektor batu akik, penyebarluasan tata cara bisnis dan jaringan telah menyerap bukan hanya sekedar ratusan orang tapi sudah mendekati jutaan orang. Mulai dari sektor batu akik mentah, distribusi batu akik mentah. Tata cara penamaan. Jual beli alat asah batu akik. Tata cara mengasah yang baik. Seni mengikat batu akik. Sampai pada marketing batu akik. Bahkan beberapa pejabat penting negara ini harus menyempatkan waktunya untuk mengunjungi sentra bisnis batu akik.

Sesuatu yang sudah booming bukan hanya akan membuat pecinta batu akik untuk bersibuk ria. Bahkan orang yang nyata nyata bukan pecinta batu akikpun seperti saya misalnya harus menyempatkan diri walau hanya sekedar iseng atau mengisi waktu luang menunggu teman untuk melirik lirik beberapa batu akik. Bermula dari sekedar iseng dan berujung pada ketertarikan. Ternyata ada satu jenis batu akik yang cukup menarik perhatianku. Namanya batu kalimaya. Bentuknya putih polos namun memencarkan warna warni secara bergantian. Bahkan anakku yang masih TK ketika kutunjukkan batu kalimaya tersebut juga menunjukkan ketertarikannya pada warna warni yang dipancarkan batu tersebut. Walhasil batu kalimaya yang berharga ratusan ribu harus rela disita anakku yang masih TK tersebut.


Baik bisnis batu akik, cuci sepeda motor maupun jual beli ponsel dan pulsa bukan sekedar fenomena bisnis semata. Ini berkaitan dengan bukti nyata bahwa jiwa wirausaha dan minat serta bakat masyarakat tidak bisa dipandang sebelah mata. Seseorang yang bahkan untuk membedakan apa itu solar dan bensin saja tidak bisa, toh untuk menghapal puluhan jenis batu akik serta tempat asalnya bisa dikuasainya dengan baik. Ini pernah saya tes ketika sedang mengamati beberapa batu akik yang cukup manarik. Saya tanya tanya nama beberapa batu akik secara berulang serta tempat asalnya. Menarik, semua bisa dikuasainya tanpa ada kesalahan sedikitpun.

Di tengah kondisi sosial ekonomi masyarakat seperti sekarang ini, sektor bisnis informal seperti bisnis batu akik harus dijadikan sebagai pionir dalam mengembangkan jiwa wirausaha masyarakat. Booming bisnis batu akik pun bukan dikarenakan gencarnya pemberantasan korupsi. Dan juga bukan atas beberapa gebrakan deregulasi makro ekonomi.

Negara harus mengambil hikmah dari bisnis sektor informal seperti bisnis baru akik ini. Kata kuncinya adalah tata cara bisnis dan jaringan marketingnya. Namun negara tidak bisa mengandalkan penyebarluasan tata cara bisnis dan jaringan marketing pada booming secara alami semata. Harus ada sebuah strategi sistematis dalam upaya meningkatkan bisnis informal di masyarakat yang bisa menyedot para penganggur menjadi pengusaha dalam skala besar.

Instrumen yang terlupakan dalam hal ini adalah BLK (balai latihan kerja) baik milik pemerintah maupun swasta. Negara harus mengalokasikan anggaran subsidi dalam jumlah besar agar angkatan kerja yang belum memiliki pekerjaan tetap bisa berwirausaha secara terlatih di BLK namun tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk bisa menikmati pendidikan keterampilan di BLK, bila perlu digratiskan. Selama ini BLK lebih banyak menggarap sektor jahit menjahit, salon, elektronik, permesinan. BLK harus dikembangkan juga pada sektor budi daya sandang pangan dan kelautan seperti budi daya ternak, budi daya rumput laut, budi daya mutiara dan sebagainya. Juga dikembangkan pada berbasis IT. Saya memandang bahwa semua angkatan kerja yang menganggur berhak untuk menikmati pendidikan keterampilan gratis di BLK. Dari data mbah google jumlah angkatan kerja perfebruari 2015 sebanyak 128,3 juta orang. Sebanyak 7,15 juta orang di antaranya menganggur. Nah, bila angkatan kerja yang menganggur ini disubsidi sebesar 1 juta berorang hanya dibutuhkan sebanyak 7,15 trilyun untuk memberi kesempatan angkatan kerja yang menganggur untuk mengikuti pendidikan keterampilan di BLK.

Bagaimana dengan situasi pasca BLK ? Bukankah juga dibutuhkan modal untuk membuka usaha ?

Memang benar. Dan sudah ada KUR (kredit usaha rakyat) yang dikelola oleh beberapa perbankan nasional untuk menjadi modal awal membuka usaha.

Bila hal di atas terwujud akan bersinergi dengan dana desa dalam upaya membangun negara serta menghambat arus urbanisasi.

Salam reformasi

Rahmad Daulay

21 november 2015.


  •   *   *  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar