Minggu, 06 Oktober 2013

Jakarta-Surabaya : Antara Jalan Tol Laut atau Kereta Api Super Cepat


Satu rencana gebrakan baru akan dimulai, yaitu jalan tol laut Jakarta-Surabaya. Diprediksi akan menelan biaya Rp. 150 trilyun. Panjangnya sekitar 775 km. Dibagi menjadi 2 ruas jalan yaitu ruas jalan Jakarta-Semarang dan ruas jalan Semarang-Surabaya. Sebanyak 19 BUMN siap mengeroyok proyek ini. Beberapa bank BUMN siap mendanainya.

Rencana proyek ini didasari atas padatnya kenderaan pada ruas jalan pantai utara Jawa yang kita kenal dgn jalan pantura. Perbandingan di mana truk lewat pantura Jakarta-Semarang bisa 3 hari tapi kalau lewat tol laut bisa 1 hari. Kalau kendraan biasa lewat pantura Jakarta-Surabaya bisa 1 minggu tapi kalau lewat tol laut bisa 2 hari.

Di pihak lain, ada juga rencana proyek kereta api super cepat Jakarta-Surabaya dgn waktu tempuh 3 jam. Perbandingannya dengan kereta api eksekutif bisa memakan waktu 12 jam. Diprediksi akan menelan biaya 230 trilyun.

Dari segi pemikiran teknis, tentu ini sangat menggembirakan. Betapa tidak, tak perlu lagi memikirkan rumitnya pembebasan lahan. Laut tak perlu dibebaskan. Lagian siapa yang mengkavling perumahan di ats air laut. Sedangkan kereta api super cepat dibangun di atas rel yang ada selama ini. Dengan kata lain rel bertingkat.

Namun, sebagaimana sering terjadi selama ini, pemikiran teknis selalu bertentangan dengan pemikiran ekonmis dan pemikiran sosial.

Secara sederhana apapun bentuk dan jenis transportasinya maka jenis pengguna transportasi tersebut dibagi menjadi 2 kategori besar, yaitu penumpang dan barang. Semua jenis transportasi ; pesawat terbang, kapal laut, kereta api, truk, mobil dan lainnya hanya mengangkut 2 jenis yaitu penumpang dan barang. Dengan memakai pesawat terbang Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu 45 menit. Dengan memakai kapal laut baik penumpang maupun barang bisa ditempuh dengan waktu 1 hari. Dengan memakai kereta api eksekutif jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dengan 12 jam.

Dari peta persaingan antar jenis transportasi ini maka bisa dilihat bahwa jalan tol laut Jakarta-Surabaya akan kalah bersaing, baik untuk angkutan penumpang dengan kereta api super cepat yang sampai ditujuan hanya dalam waktu 3 jam, beda 2 jam dengan pesawat terbang. Sedangkan angkutan barang, transportasi kapal laut dan kereta api barang masih ekonomis dari segi waktu dan ongkos.

Untuk itu maka akan lebih penting dan prioritas bila transportasi masal kereta api super cepat direalisasikan sebagai sarana angkutan penumpang dengan segala fasilitasnya. Sedangkan untuk transportasi angkutan barang dengan memperluas layanan kapal laut dan kereta api khusus barang. Apalagi dengan rencana rel ganda akan mempercepat lalu lintas perkeretaapian. Selain fasilitas, perlu juga rekayasa budaya dan insentif agar para pelaku bisnis lebih cenderung memakai layanan kapal laut dan kereta api barang sebagai sarana angkutan barang daripada angkutan darat truk. Truk, selain memacetkan jalan akibat lambatnya kecepatan bergeraknya, juga memproduksi polusi udara. Belum lagi biaya perawataan truk yang memakan biaya tidak sedikit.

Perlu kiranya rencana jalan tol laut Jakarta-Surabaya dialihkan ke pulau lain dengan tujuan pemerataan pembangunan tapi tak perlu di atas laut. Beberapa rencana tertunda seperti jalan tol Sumatra, jembatan Selat Sunda, jembatan Jawa-Bali, jembatan antar pulau besar. Ini bila diwujudkan akan mempercepat berkembangnya pusat pertumbuhan ekonomi baru dan mereduksi pesatnya arus urbanisasi ke pulau Jawa, terutama ke Jakarta.

Khusus untuk pulau Sumatra, rencana jalan tol Sumatra yang menghubungkan semua ibukota propinsi akan sangat membantu mobilitas angkutan penumpang dan barang. Selama ini transportasi darat mengandalkan jalan lintas timur Sumatra, jalan lintas tengah Sumatra dan jalan lintas barat Sumatra yang tak kunjung terealisasi. Fungsi ketiga jalan lintas ini tumpang tindih antara jalan penghubung antar propinsi, jalan penghubung antar kabupaten, jalan penghubung antar kecamatan dan jalan ibukota kabupaten. Tumpang tindih fungsi ini menyebabkan kemacetan pada ruas jalan tertentu yang menyebabkan keterlambatan arus transportasi antar propinsi. Hal ini akan terselesaikan bila jalan tol sumatra bisa hadir. Diprediksi bila jalan tol sumatra terealisasi bisa meredam nafsu pemekaran baik pemekaran propinsi baru maupun pemekaran kabupaten/kota baru. Kondisi ini diprediksi akan sama pada pulau lainnya seperti Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Salam reformasi.

Rahmad Daulay

7 oktober 2013.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar