Selasa, 06 Mei 2014

Ketika Musim Hujan Usai



Ketika musim hujan menerpa, seribu macam ide dan gagasan muncul di kepala semua orang terutama pada daerah yang terkena banjir dan tanah longsor. Musim hujan akan disertai dengan banjir dan tanah longsor.

Banjir akan melanda daerah yang memiliki perbedaan ketinggian yang tidak jauh berbeda antara permukaan tanah dengan ketinggian air normal. Ketika debit air melebihi biasanya maka permukaan air akan meninggi sehingga melimpah ke daratan sedangkan daya tampung dan daya alir sungai tidak mampu menampung semua air. Maka akan timbul di pikiran orang betapa pentingnya melakukan normalisasi sungai. Endapan sedimen, bebatuan dan sampah membuat daya alir sungai menjadi berkurang sehingga perlu dilakukan pengerukan sungai. Akan timbul di pikiran orang perlunya relokasi penduduk yang bermukim di daerah langganan banjir. Akan timbul di pikiran orang perlunya meningkatkan kemampuan tanah menyerap air dengan cara penghijauan dan memperluas ruang terbuka hijau serta memperbanyak biopori. Akan timbul di pikiran orang untuk mengefektifkan DAS (daerah aliran sungai). Dan banyak lagi gagasan yang muncul apabila bencana banjir menerpa.

Satu hal yang terlupakan ketika banjir melanda permukiman penduduk adalah berkurangnya kemampuan drainase jalan dan drainase lingkungan dalam mengalirkan air akibat penimbunan dan penyumbatan sampah. Yang sering dijadikan solusi adalah pembersihan saluran drainase dari sampah yang menimbuninya. Namun masih jarang yang memikirkan penambahan volume drainase dengan cara menambah lebar dan menambah kedalamannya. Di sini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan lahan dan perbedaan ketinggian drainase dan sungai. Oleh karena itu perlu kiranya melakukan desain ulang master plan jaringan drainase sebagai sebuah jaringan terintegrasi dengan pembuangan akhir air ke sungai. Drainase yang masih memungkinkan untuk diperlebar dan diperdalam akan memberi harapan bisa mengalirkan air banjir lebih cepat dari biasanya. Hal lain yang perlu dilakukan adalah menutup bagian atas drainase untuk mencegah pembuangan sampah yang akan menyumbat drainase dan mengatur lobang aliran air hujan dari bahu jalan menuju drainase.


Tanah longsor akan melanda daerah di mana kemampuan tanah untuk menahan beban di atasnya berkurang akibat air yang mengurangi daya rekat partikel tanah ditambah dengan beban di atasnya semakin berat akibat air terus menambah berat keseluruhan. Tanah longsor berbahaya terutama di permukiman penduduk dan jalan raya. Di sini perlu kombinasi antara faktor lingkungan dengan konstruksi terutama konstruksi bangunan dan jalan. Pada daerah rawan longsor dengan pemukiman perlu dilakukan rekayasa lingkungan dengan memperbanyak menanam tanaman yang bisa memperkuat daya ikat tanah dan mencegah longsor. Sedangkan jalan raya terutama yang lokasi awalnya merupakan pegunungan dan perbukitan yang dipotong menjadi jalan dengan satu sisi ada jurang dan di sisi lain ada tebing sehingga baik sisi jurang maupun sisi tebing memiliki potensi longsor yang sama dan sama-sama memiliki ancaman untuk memutus jalan. Apalagi akibat keterbatasan dana pembangunan pada waktu itu membuat pemotongan bukit menjadi jalan hanya menyisakan bahu jalan sekitar 1 meter dari jurang dan hanya menyisakan 1 meter dari bukit. Oleh karena itu perlu dipikirkan demi keselamatan berkendara dan demi kelancaran arus barang dan penumpang untuk melakukan penggeseran jalan pada posisi rawan longsor baik jurang maupun perbukitan dengan memotong kembali bukit sampai posisi jalan aman kira-kira 3 meter dari jurang dan 3 meter dari bukit. Baik pada tepi jurang maupun bukit nantinya ditanami tanaman yang bisa memperkuat ikatan tanah sehingga bisa mencegah terjadinya longsor. Beberapa kasus menunjukkan penanaman bambu di pinggir jurang bisa memperkuat tanah dan menjadi benteng mencegah kecelakaan.

Ketika bencana banjir dan longsor melanda, banyak gagasan di pikiran semua orang. Ketika musim hujan usai, mari bergerak mewujudkan gagasan.

Salam reformasi

Rahmad Daulay

6 mei 2014.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar