Jumat, 19 April 2013

Perkembangan Program Konversi BBM Ke Gas


Di tengah belum hilangnya ingatan masyarakat tentang momok ledakan gas elpiji, program konversi BBM ke gas semakin melebarkan sayap ke kabupaten – kabupaten. Hal ini menimbukan kekhawatiran dalam berbagai bentuknya.

Memang tidak mudah bagi masyarakat untuk menerima sesuatu yang baru, apalagi hal baru tersebut pernah menjadi masalah dan dipertontonkan di media elektronik.

Dan tidak mudah bagi masyarakat untuk meninggalkan hal yang lama yang sudah begitu familier bagi kehidupannya.

Pemerintah dihadapkan pada pilihan – pilihan. Dan pemerintah kelihatannya memilih meneruskan program konversi BBM ke gas dengan segala konsekuensinya.


Bila kita nilai secara objektif, program konversi BBM ke gas adalah program yang sangat bagus dengan semangat menurunkan subsidi BBM dan menkorvesinya ke bentuk lain, salah satunya ke gas dalam bentuk tabung gas 3 kg. Dan telah banyak masalah negatif yang terjadi. Kesemuanya ini harus diterima dan menjadi bahan introspeksi bagi pemerintah sebagai pemilik program.

Rakyat pasti akan menerima dengan senang hati apabila program tersebut ternyata bermanfaat baginya. Dan pemerintah harus bisa membuktikan bahwa program tersebut bukan hanya baik untuk pemerintah dengan pengurangan beban subsidi APBNnya saja tapi juga berguna untuk semua rakyat.

Rakyat harus dipersiapkan untuk bisa menerima program konversi BBM ke gas tersebut. Bukan dengan kesan dadakan. Sosialisasi harus dilakukan terlebih dahulu dengan melibatkan para tokoh masyarakat panutan mereka. Semua kelemahan teknis baik yang disebabkan oleh aspek yang melekat pada rangkaian tabung gas, regulator, slang dan kompor harus segera diatasi secepat mungkin. Semua produk yang tidak layak pakai harus segera ditarik dari peredaran dan harus dilakukan razia produk setiap saat. Program dan fasilitas maintenance harus didirikan di setiap tempat, minimal 1 fasilitas perdesa dan 3 fasilitas perkelurahan lengkap dengan teknisi terlatih bersertifikat dan fasilitas yang lengkap. Masyarakat jangan diizinkan memasang sendiri rangkaian lengkap keseluruhannya. Momen penggantian tabung gas harus dipakai sebagai waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan keseluruhan rangkaian. Karena masyarakat tidak bisa diandalkan komitmennya untuk memeriksa secara reguler rangkaian dari regulator, slang dan kompor.

Bila perlu, pemerintahan desa dan kelurahan dijadikan posko fasilitas maintenance dan teknisinya dijadikan berstatus teknisi PTT (pegawai tidak tetap). Toh banyak tamatan SMK teknik yang siap dilatih dan diterjunkan ke seluruh desa dan kelurahan untuk menjadi teknisi PTT. Anggarannya bisa diambil dengan menambah sedikit biaya total harga penjualan tabung gas semua ukuran.

Yang tak kalah pentingnya adalah harus dibuat asuransi kecelakaan gas elpiji. Produsen tabung gas dan seluruh rangkaiannya (regulator, slang, kompor) harus diwajibkan mengasuransikan produknya, bisa dengan status asuransi kegagalan produk rangkaian gas yang mana pihak asuransi akan menanggung seluruh kerugian akibat ledakan gas elpiji tanpa memperdulikan apa penyebab ledakan tersebut. Jangan ada alasan dari pihak asuransi bahwa jenis asuransi yang demikian adalah jenis bisnis yang merugikan. Toh presentase kejadian ledakan gas hanyalah sedikit persentasenya, sedangkan asuransi sudah harus dimasukkan dalam komponen harga penjualan produk seluruh rangkaian.

Dengan demikian maka mudah – mudahan masyarakat tidak takut lagi dan bisa menerima program konversi BBM ke gas yang sesungguhnya sangat mulia ini.

Salam reformasi

Rahmad Daulay

11 desember 2010.

*   *  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar